Daerah Jambi
Beranda » Berita » Hasril Meizal, Ketua BPD Permanti : GEDUNG EMPAT JENIS, BUTUH REHABILITASI ?

Hasril Meizal, Ketua BPD Permanti : GEDUNG EMPAT JENIS, BUTUH REHABILITASI ?

Pemandang Kabupaten Kerinci dari Bukit Tengah. Dok (Ridoilhamsyah/IG) dan Pemandangan Kota Sungai Penuh. Dok (@dend_photograph/IG - piknikkerinci)

“Jaga Nilai Budaya Suku Bangsa Kerinci”

Laporan : Liputan Kerinci & Kota Sungai Penuh Jurnalist Beo07.co.id –
Umah Uhang Empat, ada juga yang menyebut : Gedung Empat Jenis” yang berdiri kokoh didepan Kantor Kodim 0417 Kerinci, Kelurahan Sungai Penuh,  Kota Sungai Penuh, Jambi, telah buram dimakan usia dibangun eranya Bupati Kerinci, dijabat  H. Fauzi Si,in, menggantikan Kol (Purn) TNI-AD,Bambang Sukowinarno, asal Jawa Timur, Surabaya.

Kondisi Umah Uhang Empat Jenis, Kota Sungai Penuh. Dok BEO07/Kota Sungai Penuh

Pembangunannya menggunakan dana / sumbangan masyarakat Umum Indonesia diluar Kerinci, dan sumbangan khusus masyarakat Kerinci dalam dan luar negeri (perantau), kita wajib bersyukur terbangunnya “Gedung Empat Jenis” di Kota Sungai Penuh, ibu Kota Kabupaten Kerinci saat itu, belum berpisah (mekar) dari Kabupaten Kerinci. Umah Uhang Empat Jenis, bagian dari Simbol persatuan dan kesatuan, “Suku Bangsa Kerinci” kini sudah tersebar di Nusantara dan luar negeri.
Hasril Meizal, Ketua BPD Desa Permanti diminta keterangannya seputar masalah Gedung Empat Jenis, sudah seharusnya direhab, “karena sudah buram, dan makan rayap” harus dikembalikan ke kondisi seperti semula, (Nampak baru).
Kata Masril Meizal Depati Payung Kinantan Lidah Negeri, saat dihubungi (14 /09/ 2025) Jam 18:20 WIB.
Gedung dibangun eranya Bupati Fauzi Si, diduga masih ada dana tersisa dengan nilai Rp. 2,4 miliyar dana dari bantuan Gempa Kerinci 1995 silam, entah kemana diserahkan, milik kabupaten yang dikeluarkan Pemda Provinsi, belum ada kejelasannya sampai saat ini. Hasril Meizal, hanya batas tahu informasi, direkening mana, atas nama siapa, dia juga mengaku tidak tahu. Perlukah di telusuri,….tergantung tindakan bijak Walikota Sungai Penuh.
Dibangun dengan dana Rp.2, 6 miliar, kata Harmalis hingga berdirinya Umah Uhang Empat Jenis Simbol Persatuan masyarakat Kerinci, kini Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Karena Kabupaten dan Kota, secara Administratib, berdiri sendiri, dalam pembagian asset Umah Uhang Empat Jenis, berada dalam wilayah Kota Sungai Penuh, maka pengelolaan diberikan pada Pemkot Sungai Penuh, sampai sekarang. Kata mantan kaKemenag Kerinci, saat dihubungi, 2 Mei 2025 Jam 19: 53 WIB.
Mengenai telah berdirinya Kota Sungai Penuh, dan Kerinci Hilir sedang proses pemekaran, bila suatu saat mekar (depinitif), bahwa secara Administrasi boleh berpisah Kerinci, Kota Sungai Penuh mudik dan Kerinci Hilir, untuk mempercepat Pemekaran dan Pembangunan, tapi ketiganya adalah dihuni Suku Bangsa Kerinci, tidak boleh dipisah-pisahkan, secara adat dan budaya, jelasnya.
Mengingat perjalanan panjang sejarahnya mulai dari Punetai Pumatang Putuh, hingga ke Telun Burasap, Betung Bularik, kita satu Adat dibumi Sakti Alam Kerinci, dulu “Bumi Sahalun Suhak Salatuh Bedil.”  Itu, yang disebut “Sakti Alam Kerinci”  
Dalam Sejarah Adat Lamo Pusako Usang Suku Kerinci berasal dari  Suku Batin dari Bangko, Suku Bajau dari Tanjung Jabung Timur, Terdiri 4 Depati Alam Kerinci, Yaitu Depati Muaro Langkap Tamiai, Depati Rencong Telang Pulau Sangkar,  Depati Biang Sari Pengasih, Depati Atur Bumi Hamparan Tuo Hiang Ambai,  Depati 8 Helai Kain Siulak, Semurup, Pondok  Tinggi dan masih banyak depati-depaati lainnya, maaf yang belum kita sebutkan namanya, paparnya.
Menurut informasi layak dipercaya, mengatakan tahun anggaran 2025 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sungai Penuh, ada dana APBD Pemkot Sungai Penuh disiapkan sekitar Rp230 juta, untuk merenovasi kembali Rumah Adat Empat Jenis, Kerinci – Kota Sungai Penuh.
Bak Pituah Adat Lamo “mengatokan Cupak Diansak, Dagang lalu, Uhang Puladang nak merubah Adat kito, jangan di biarkan?” kata Ketua BPD Permanti, yang juga tokoh Adat, di Kecamatan Pondok Tinggi, “Bumi Sakti Alam Kerinci” pada bagian lain keterangannya.
Pembangunan rumah adat Empat Jenis, kini pengelolaannya berada di Pemdakota Sungai Penuh, sudah seharusnya direhabilitasi karena kondisinya, sudah “buram dan di inggapi rayaf” bertahun-tahun lamanya, hampir 27 tahun berjalan, sejak dibangun mantan Bupati Kerinci, (alm) H. Fauzi Si,in).
Kita do,a beliaukan dan para penyumbang yang telah mendahulu kita (wafat), semoga mendapat tempat yang baik disisinya.
Dan bangunan fisik gedung Empat Jenis (Umah Empat Jenis) yang ditinggalkan, tetap jaya dengan nilai dalam mengemban amanat, menjaga budaya Suku Bangsa Kerinci dan nilainya yang relevan sampai saat ini.
Agar generasi muda (anak muda) Suku Bangsa Kerinci tahu dan mengerti dengan nilai-nilai budaya para leluhurnya.
Martabat suatu Bangsa yang besar, didahului Agamanya tapi Adat dan Budayanya menggambarkan ciri chas suatu daerah, termasuk Suku Bangsa Kerinci.
Mereka di uji tidak batas ketekunannya beragama, (pedoman hidup) tapi nilai-nilai budayanya, Adat Lamo,Pusako Usang Warisan Budaya Leluhur Kerinci. Termasuk  rumah Adat Uhang 4 Jenis Kerinci, secara fisik harus segera diperbaiki seperti semula, (Nampak indah, kuat dan kokoh).
Batas nilai fisik bangunannya yang berdiri megah, tapi nilai budaya, dan ajarannya dalam adat harus berjalan, “basa – basi, yang tua tahu dengan tuanya dirinya, yang muda menghormati orang tua, dan sesame.
Dan para depati ninik-mamak, tahu ajun arah, wilayah kerjanya, dan menerapkan yang sepatutnya (pantas), dan menerapkan “malu hukum tertinggi, dalam negeri” Ia, bak suluh Bindang penerang Cahaya Negeri.
Hukum malu diterapkan oleh nenek moyang Suku Bangsa Kerinci, misalnya “malu menatap istri orang berlebihan, malu mencuri, malu memperkosa, malu korupsi, malu mengambil hak yang bukan haknya, maka pelanggaran hokum dalam Negara dan daerah, minimal semakin mengecil, bukan kian kronis (membubung tinggi).
Mamak tahu siapa Anak dan Keponakannya, dengan meminjam istilah, “Anak dipangku, keponakan di bimbing” Ponakan harus tahu mana mamak dan Datung, dan menjaga tingkah laku, dan sopan santun didalam negeri, karena Adat Bersandi Sarak, Sarak bersandar Kitabullah.
Bila pesan, petatah-petitih, nenek moyang Suku Bangsa Kerinci, di jaga, dirawat, di gunakan secara benar, masyarakat Kerinci di alam modern ini, tidak akan salah berkata, dan salah bertindak, Ia akan berjalan di rel (kebenaran).
 Karena Ia terikat dengan pesan kebaikan dan cinta tanpa batas dari leluhurnya.
Adat Suku Bangsa Kerinci, sungguh luar biasa, dalam menegakan kebenaran, “salah berucap saling memaafkan, salah bertindak didalam negeri di denda dengan hukum adat, ribut antar warga sampai luko (luka) di Pampeh di (obati) Mati di bangun, semuanya ada dalam adat Kerinci.
Bahkan dalam sistem pemerintahan Dusun (Desa) terhadap seorang pemimpin, demi tegaknya rasa keadilan ditengah masyarakat, “disebutkan Raja Alim Raja Disembah, Raja Dzolim Raja di Lawan” jika raja berbuat Dzolim terhadap masyarakatnya sendiri, masyarakat Hukum adat harus berani, menghukumnya.
Tinggi dan kuatnya peradaban Suku Bangsa Kerinci, pada tahun 1914, kita masih dijajah Bangsa Belanda, Kerinci sudah menjadi negeri terbaik penerapan adat di Nusantara, yang ditulis dalam hurup Arab Gundul, disimpan oleh salah satu tokoh di Tanah Sibengkeh Hamparan Rawang, nama dan identitasnya disembunyikan (UU No.40 tahun 1999 tentang Pers), karena kami belum melakukan wawancara eksklusif (langsung) dengan tokoh tersebut.
Kedepannya, kita perlu mendokumentasikan sejarah Suku Bangsa Kerinci, dalam peradapannya yang panjang, menjalankan Hukum Adatnya yang luar biasa meberi petunjuk untuk generasinya, serta sejarah “Umah Uhang Empat Jenis” apa sejarah dan latar belakangnya maka dibangun dan dinamakan “Empat Jenis dan kenapa dibangun di sana ?”
Mari kita rawat, dan jaga secara fisik, “Umah Uhang Empat Jenis” yang berdiri saat ini di Kota Sungai Penuh.Siapa lagi yang menjaganya, kalau bukan kita bersama.
Laporan   : Safwandi Depati Intan.

Penulis / Editor : Gafar Uyub Depati Intan.

BACA JUGA :  Bitcoin Dianggap Inovasi Namun Diwaspadai sebagai Ancaman Ekonomi

(Kritik, Pendapat, Pandangan, Saran, kami tunggu untuk perbaikannya, jika diperlukan). Kami sadar betul tak ada Gading yang tak retak, bila tak retak bukan Gading namanya. Tapi, setidaknya jadilah Gading yang retak, ketika dibuang jauh masih ada manfaatnya bagi orang lain. (Red).

 

× Advertisement
× Advertisement