Tago, seorang yang di kenal cerdas, ramah, unik serta lucu kepada siapa saja, kali ini mendadak berubah menjadi orang paling panik seantero sebagai pengawal dari gedung putih. Pagi itu, suasana damai tenang di tengah keberkahan bulan suci ramadhan.
Secara mendadak Daeng Agung turun tangan kembali untuk yang kedua kalinya atas perintah sang raja, di kerjakan secara tuntas. Perintah ke tiga ambil alih oleh Tago dengan gaya spekulasi liarnya yang cukup memahami ilmu tersirat tempo dulu, dengan segera mungkin mengatasi kabar tak sedap yang melanda Negeri Anta Berantah yang sedang di terpa angin puting beliung dari Selatan dan Utara.
Namun sayangnya, spekulasi liar Tago tak mampu menghentikan angin puting beliung dari Selatan dan Utara yang sama – sama memiliki ilmu tersirat tempo dulu. Kendati kedahsyatan angin tersebut ikut menurun Daeng Agung untuk mengakhiri derasnya gelombang angin, di titik akhir Daeng Agung masuk ke dalam “lingkaran setan.”
Terbaca sudah, Tago harus mengeluarkan keringat dingin bercucuran, dan nafasnya tersengal-sengal. Di bolak-balik pun tak mampu menghentikan kecepatan angin puting beliung dari Selatan dan Utara. Seharusnya Negeri Anta Berantah menjadi tenang, tapi faktanya, pertanyaan besar kembali muncul di tengah negeri yang masih berkutat mencari jati diri.
Tago lah pembuka kunci awal tersiar kabar “kebakaran jenggot,” kepanikan tanpa arah dari gedung putih yang tidak mungkin bisa mengembalikan keadaan. (***)
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan dan hanya sebagai hiburan semata.
Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an tentang Allah Maha Mengetahui :

Al-Hujurat · Ayat 18
اِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَࣖ ١٨
innallâha ya‘lamu ghaibas-samâwâti wal-ardl, wallâhu bashîrum bimâ ta‘malûn
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Surah Al-Mulk ayat 13-14
وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖ ؕ اِنَّهٗ عَلِیْمٌۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ
Wa asirrụ qaulakum awij-harụ bih, innahụ ‘alīmum biżātiṣ-ṣudụr
“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (Ayat 13)
اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
Alā ya’lamu man khalaq, wa huwal-laṭīful-khabīr
“Apakah (pantas) Zat yang menciptakan itu tidak mengetahui? Sedangkan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui.” (Ayat 14)
اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ ٧٨
a lam ya‘lamû annallâha ya‘lamu sirrahum wa najwâhum wa annallâha ‘allâmul-ghuyûb
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang gaib?
Ali ‘Imran · Ayat 119

اَنْتُمْ اُولَاۤءِ تُحِبُّوْنَهُمْ وَلَا يُحِبُّوْنَكُمْ وَتُؤْمِنُوْنَ بِالْكِتٰبِ كُلِّهٖۚ وَاِذَا لَقُوْكُمْ قَالُوْٓا
اٰمَنَّاۖ وَاِذَا خَلَوْا عَضُّوْا عَلَيْكُمُ الْاَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِۗ قُلْ مُوْتُوْا بِغَيْظِكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ
عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ ١١٩
hâ’antum ulâ’i tuḫibbûnahum wa lâ yuḫibbûnakum wa tu’minûna bil-kitâbi kullih, wa idzâ laqûkum qâlû âmannâ wa idzâ khalau ‘adldlû ‘alaikumul-anâmila minal-ghaîdh, qul mûtû bighaidhikum, innallâha ‘alîmum bidzâtish-shudûr
Begitulah kamu. Kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kamu beriman pada semua kitab. Apabila mereka berjumpa denganmu, mereka berkata, “Kami beriman.” Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena murka kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu karena kemurkaanmu itu!” Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.








