LEBONG, BEO07.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebong melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Kabupaten Lebong akan mulai menggenjot promosi pariwisata yang ada di wilayah Kabupaten Lebong ke pasar Nasional dan Internasional, melalui program Serial perjalanan “First Class Indonesia” yang tayang di televisi nasional Belanda, menampilkan pesona destinasi unggulan Nusantara secara sinematik dan inspiratif.
Program ini menjadi bagian dari strategi Disparpora Kabupaten Lebong untuk memperkuat branding Wonderful Indonesia di pasar internasional, khususnya Wisata dan Budaya yang ada di wilayah Kabupaten Lebong.

Program First Class Indonesia yang menghadirkan serial perjalanan yang menampilkan kekayaan destinasi pariwisata Indonesia melalui narasi inspiratif dan visual berkualitas tinggi. Serial televisi ini tidak hanya memperlihatkan keindahan destinasi, tetapi juga mengangkat nilai budaya, kearifan lokal, serta komitmen Indonesia dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan.
Maka dari itu Disparpora Kabupaten Lebong mendukung program serial perjalanan “First Class Indonesia” ini, apalagi di dalam program tersebut salah satu pengetus First Class Indonesia adalah Putri yang berdarah Rejang yaitu Sherley Yahya Kornaat Puteri Indonesia Provinsi Bengkulu 2002 ini membawa kisah inspiratif.

Ia menyajikan First Class Indonesia. Dalam program Ini bukan sekadar serial televisi premium melainkan perjalanan panjang perempuan Indonesia dalam membangun legasi budaya bagi Tanah Air melalui cerita, nilai, dan makna.
Plt Kadis Disparpora Kabupaten Lebong Rachman, S. KM melalui Sekretaris – nya, Agus Suryadi, SE, mengatakan, Dinas pariwisata dengan adanya program yang dijalankan oleh saudara Sherley Yahya adalah orang asli berdarah rejang putra – putri Kabupaten Lebong (yang dulunya masih satu dengan Kabupaten Rejang Lebong/Curup) daerah Rejang ini.
“Kita dari Dinas Pariwisata sangat mendukung program serial First Class Indonesia, dengan adanya program tersebut, kita berharap saudara Sherley bisa membangun persepsi positif terhadap destinasi Indonesia, meningkatkan tingkat kesadaran publik internasional, sekaligus mendorong minat kunjungan ke sejumlah destinasi unggulan seperti yang ada di wilayah Kabupaten Lebong, agar wisata dan budaya tanah kelahiran saudara Sherley Yahya yang juga di ketahui cicit dari Pangeran H. Zainul Abidin yang di jamannya sangat pengaruh di era penjajahan Belanda di tanah Rejang.
“Kita berharap saudara Sherley ini bisa membawah wisata dan budaya tanah rejang khususnya di wilayah Kabupaten Lebong ke kancah Nasional dan internasional,” terangnya.
“Kami berharap program serial First Class Indonesia yang dijalankan oleh Sherley bisa memuat destinasi Wisata dan Budaya yang ada di Kabupaten Lebong ini,” katanya
Lebih jauh Agus, menyampaikan, pihaknya optimistis publikasi pariwisata dan Budaya yang berada di wilayah Kabupaten Lebong melalui program Fist Claas Indonesia yang dimuat media di Belanda yang memiliki kredibilitas tinggi akan semakin memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi unggulan dunia terkhusus di Kabupaten Lebong.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari diplomasi budaya yang mempererat hubungan masyarakat kedua negara melalui sektor pariwisata. Melalui langkah promosi yang terarah dan kolaboratif ini, ia berharap Wisata dan budaya yang ada di Kabupaten Lebong promosinya bisa lebih luas lagi dengan melalui serial Fist Claas Indonesia.
“Apalagi Serial First Class Indonesia ini kan mengajak penonton Eropa menjelajahi sejumlah destinasi populer di Indonesia dengan visual sinematik dan narasi perjalanan yang emosional, ini kesempatan kita ketika wisata dan budaya yang di Kabupaten Lebong dimuat di program tersebut kemungkinan wilayah kita akan diketahui seluruh dunia.”
“Kami berharap Sherley bersama tim nya bisa datang ke Kabupaten Lebong, kebudaya dan wisata yang ada di Kabupaten Lebong bisa dipromosikan melalui program Serial Fist Class Indonesia, itu harapan kami dengan saudara sherley,” sampainya
Kilas sejarah Poyang nya Sherley Yahya, yang memiliki Darah Pangeran Yang Tak Pernah Padam. Warisan Kebangsawanan Rejang Lebong dari Bengkulu adalah empat Abad Kebesaran, Perlawanan, dan Kelangsungan Dinasti, yang kita telusuri sejarah tersebut adalah.
Di balik pegunungan Bukit Barisan yang megah, di antara lembah hijau Rejang Lebong, tersimpan sebuah silsilah kebangsawanan yang telah bertahan selama lebih dari empat abad. Yaitu Pangeran H. Zainul Abidin dan para pendahulunya, sebuah dinasti yang tidak hanya mewarisi gelar, tetapi juga keberanian, ketahanan, dan martabat yang tak tergoyahkan.
Sebelum kapal-kapal Eropa pertama kali tiba dan berlabuh di pantai barat Sumatera, suku Rejang telah menjadi penguasa sejati pegunungan Bukit Barisan. Mereka adalah bangsa Proto Melayu keturunan Austronesia, dengan adat istiadat, bahasa, dan sistem pemerintahan sendiri yang telah tertanam kuat selama ribuan tahun. Penelitian arkeologi membuktikan kebesaran leluhur mereka : tambang emas placer di Rejang Lebong yang terbesar di seluruh Sumatera telah beroperasi sejak sebelum abad ke-16, jauh sebelum seorang pun orang Eropa menginjakkan kaki di tanah ini.
Para kepala adat Redjang memegang kekuasaan melalui sistem Kutei sebuah tatanan pemerintahan berbasis desa yang mengatur kehidupan sosial, hukum, dan spiritual masyarakat. Di sinilah akar kebangsawanan keluarga ini tertanam: bukan melalui penguasa asing, melainkan melalui kepercayaan rakyatnya sendiri.
Pada Tahun 1668. Gelar Pangeran Diberikan pada pertengahan abad ke-17, Bengkulu menjadi salah satu pengekspor lada terbesar di Nusantara. Kesultanan Banten mengambil langkah diplomatik bersejarah, memberikan gelar Pangeran kepada para kepala adat Redjang Lebong.
Kepada Tuan Pati Bangun Negara dan Bangsa Radin, kepala-kepala dari Redjang Lebong, diberikan gelar Pangeran tercatat dalam lempengan tembaga bertahun 1668 Masehi. Lempeng tembaga tahun 1668 tersebut adalah dokumen resmi pertama yang mengabadikan kebangsawanan garis keturunan ini.
Dari situlah silsilah Pangeran H. Zainul Abidin bermula secara tertulis meskipun akarnya jauh lebih dalam dari sekadar tinta dan tembaga.
Dalam persaingan dua raksasa : VOC versus Inggris
Abad ke-17 membawa gelombang kekuatan asing ke Bengkulu. VOC Belanda dan East India Company Inggris berlomba-lomba menguasai perdagangan lada. Para Pangeran Bengkulu berada di tengah-tengah persaingan raksasa ini, ditanah mereka menjadi papan catur geopolitik internasional.
Pada Juli 1685, EIC menandatangani perjanjian dengan para Pangeran Sungai Lemau dan Sungai Itam leluhur keluarga ini untuk mendapatkan hak eksklusif pengiriman lada. Di atas tanah itulah berdiri Fort Marlborough. Sementara itu VOC dari Banten berusaha menghasut Sultan untuk mengusir Inggris. Para Pangeran mengambil sikap yang cerdas: bernegosiasi dengan semua pihak, mempertahankan otonomi sebisa mungkin.
Dari situlah adanya perlawanan, darah pejuang sejarah Bengkulu mencatat beberapa momen keberanian luar biasa. Malam 23 Maret 1719, sekitar 80 pejuang menyerbu Fort Marlborough yang saat itu dikuasai oleh inggris, dengan adanya serangan tersenbut para Inggris melarikan diri kocar-kacir.
Pada tahun 1807 tepatnya pada Bulan Desember. Residen Inggris Thomas Parr, yang dikenal angkuh dan semena-mena, dibunuh oleh para kepala adat Redjang disaat Thomas Parr sedang berada dikamar tidurnya. Perlawanan rakyat Redjang terus berlanjut hingga 1857, bahkan ketika Belanda menggantikan Inggris.
“Mereka bukan penguasa yang tunduk mereka adalah penjaga tanah yang telah berabad-abad merawat Bengkulu.”
Potret Pangeran H. Zainul Abidin yang kini tersimpan dalam keluarga berbicara dengan fasih tentang zaman dan pilihannya. Dalam foto tersebut, Pangeran H. Zainul Abidin mengenakan seragam resmi seorang pejabat tinggi pribumi, jas bersulam indah dengan motif bunga keemasan di kerah, destar yang tertata rapi di kepala. Ini bukan pakaian seorang yang tersingkir.
Ini adalah pakaian seorang yang berhasil mempertahankan posisinya dalam sistem yang tidak ia pilih, tetapi yang ia navigasi dengan kecerdasan. Ketika Belanda pada 1831 secara resmi menghapus gelar Pangeran dan memotong tunjangan para kepala adat, sebagian keluarga bangsawan Bengkulu memilih jalur yang berbeda, mereka menerima jabatan dalam struktur kolonial bukan karena menyerah, tetapi karena mengerti bahwa pengaruh yang dipertahankan dari dalam lebih berharga dari pada perlawanan yang berakhir dalam keheningan.
Pangeran H. Zainul Abidin adalah perwujudan dari pilihan strategis ini. Ia menjembatani dua dunia, yaitu dunia adat Redjang yang ia warisi dari leluhurnya, dan dunia kolonial yang ia hadapi setiap hari. Dalam seragam itu, ia membawa dua identitas sekaligus, administrator kolonial di mata Belanda, tetapi ia tetap jadi pemimpin adat yang dihormati di mata rakyatnya. Sebuah keseimbangan yang hanya mungkin dijaga oleh seseorang dengan kecerdasan, martabat, dan pemahaman mendalam tentang kekuasaan.
Emas, Warisan yang Mengalir dalam Darah Koneksi keluarga ini dengan emas bukan sekadar kebetulan geografis. Jauh sebelum Belanda membuka tambang mas di Lebong Donok pada tahun 1899 dan Lebong Tandai pada tahun 1906-1910, suku Redjang telah menambang emas di kawasan ini secara turun-temurun. Mereka adalah penjaga pengetahuan tentang tanah ini dan merekapun tahu di mana sungai-sungai menyimpan butiran emas, di mana pegunungan menyembunyikan urat-urat logam mulia.
Ketika Belanda membuka tambang-tambang itu secara industrial, mereka membutuhkan pengetahuan lokal, kerja sama lokal, dan legitimasi lokal. Seorang Pangeran dengan posisi seperti Zainul Abidin yang memakai seragam resmi, yang dikenal masyarakat, yang menjembatani dua sistem yang berada tepat di persimpangan itu. Koneksinya dengan goud dan goudmijnen bukan sekadar proximity.
Itu adalah peran aktif dalam ekonomi yang paling penting di Bengkulu pada masanya. Hanya Lebong Donok dan Lebong Tandai keduanya di Bengkulu, keduanya di tanah leluhur Redjang yang menjadi tambang yang benar-benar menguntungkan dari seluruh Sumatera. Bersama-sama mereka menghasilkan 79,2 ton emas dan 651 ton perak hingga tahun 1940. Pada 1939, Lebong Tandai seorang diri menghasilkan setengah dari seluruh produksi emas Nederlandsch-Indiรซ.
“Emas yang mengalir dari gunung-gunung Lebong ke Amsterdam melewati tangan-tangan yang keluarga ini kenal, di tanah yang mereka jaga sejak sebelum Eropa tahu tanah itu ada.”
Merdeka : Warisan Kembali ke Tangan Rakyat Pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Setelah perjuangan yang panjang, secara resmi pada 27 Desember 1949 โ Belanda angkat kaki dari tanah Redjang, setelah Indonesia merdeka, tambang-tambang emas dan peninggalan bangunan Belanda diambil alih oleh masyarakat Lebong Tandai sendiri.
Inilah masa yang masih sempat dirasakan oleh generasi setelah Pangeran H. Zainul Abidin, masa ketika apa yang selama berabad-abad dimiliki asing, kembali ke tangan yang yang diteruskan oleh menantunya Pangeran H. Zainul Abidin yaitu H. Amir Asyikin, melanjutkan warisan ini sebagai sosok berpengaruh tinggi dalam masyarakat Bengkulu untuk menjaga kehormatan keluarga melalui pelayanan dan kepemimpinan nyata. Anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan di mana nama keluarga masih membawa bobot, di mana cerita tentang sang Pangeran masih disampaikan sebagai kebanggaan, bukan sekadar nostalgia.
Generasi Baru : Dari Curup ke Rotterdam
Dari lembah Curup, Redjang Lebong, garis darah Pangeran ini kini tersebar ke penjuru dunia. Cicit Pangeran H. Zainul Abidin yaitu Sherley Yahya Kornaat, membawa warisan leluhurnya melampaui batas-batas geografis yang tidak pernah terbayangkan oleh sang Pangeran.
Terpilih sebagai Miss Indonesia 2002 mewakili Bengkulu, menempuh pendidikan Hubungan Internasional di Universitas Indonesia, dan kini menetap di Rotterdam kota yang ironisnya menjadi salah satu pelabuhan utama yang memproses hasil bumi dari tanah leluhurnya, Sherley Yahya adalah wujud paling mutakhir dari kelangsungan dinasti ini.
Melalui First Class Indonesia yang ditayangkan di RTL4 dan Videoland pada 2026, Sherley menjadi duta kebudayaan Indonesia di Eropa.
“Empat abad yang lalu, leluhurnya menjaga tanah ini. Kini, cucunya memperkenalkan keindahan tanah itu kepada dunia dengan cara yang sama dengan kebanggaan, dengan martabat, tanpa kompromi.”
Potret Pangeran H. Zainul Abidin yang tersimpan dalam keluarga bukan sekadar foto tua. Ia adalah jendela ke sebuah era bukti bahwa di tengah pergolakan kolonialisme, ada manusia yang memilih untuk bertahan dengan cara yang paling cerdas yang mereka bisa.
Wajahnya menatap kamera dengan tenang. Tidak ada kerendahan diri yang dipaksakan, tidak ada ketakutan yang tersembunyi di balik senyum. Hanya kehadiran yang penuh dan utuh seorang lelaki yang tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan untuk siapa ia bertahan. Dari wajah itu mengalir darah yang kini ada di Rotterdam. Darah yang membangun bisnis berlian. Darah yang berdiri di depan kamera RTL4. Darah yang tidak pernah lupa dari mana asalnya. (Rls)






