KERINCI, BEO07.CO.ID – Sudah berjalan dua tahun Pemerintahan Kabupaten Kerinci, Jambi, dibawah kepemimpinan Bupati Kerinci Monadi dengan Visi dan Misi “Petani Pejuang, Pejuang Petani” janji mensejahterakan masyarakat ternyata pembualan panjang, cerita di atas kertas, “tidak ada hasil Nyata, untuk memperbaiki lebih kurang 300 ribu jiwa, nasib ekonomi masyarakat Kerinci, kian krisis” mayoritas – 80 % usaha hidup mereka dari sektor Pertanian. “Mana janji Petani Pejuang, Pejuang Petani” yang dicanangkan Monadi” dalam Visi dan Misinya mensejahterakan Petani Kerinci?
Setelah menjabat Bupati, baru ketahuan cara berfikir, dan kinerja sosok Bupati “Monadi, sesungguhnya” tak heran masyarakat Kerinci merasa sangat kecewa, janji hanya tinggal janji, dibungkus dalam politik praktis, dengan janji dan pencitraan.

Ilustrasi/net-dok
Bupati Kerinci Monadi “Gagal” memperjuangkan Nasib ribuan Petani Kerinci. Justru asyik melakukan kegiatan Car free day, jalan Santai dari Bukit Tengah ke Lubuk Nagodang setiap minggu dan kembali ke Bukit Tengah, lalu Senam bersama dengan ratusan perempuan (ibu-ibu) rumah tangga dengan memutar berbagai Lagu daerah dan lagu-lagu lainnya. Justru ini yang menonjol pada tahun kedua jalannya Pemkab Kerinci yang dipimpinnya.


Hal ini terungkap dalam pengamatan Tim Beo07.co.id dalam satu tahun terakhir.
Bupati Kerinci Monadi usai acara Paripurna DPRD Kerinci, (30/6/2026) saat di cegat awak media ini di halaman gedung DPRD Kerinci menjelaskan dengan singkat bahwa CAR FREE DAY adalah menumbuhkan ekonomi kerakyatan dan CAR FREE DAY mengajak masyarakat hidup sehat, ujarnya singkat. Benarkah ekonomi meningkat, masyarakat hidup sehat…?
Dengan Visi dan Misi “Petani Pejuang dan Pejuang Petani” dianggap belum menyentuh kepentingan Petani Kerinci, baik jangka pendek, maupun jangka menengah lewat program program pemulihan ekonomi masyarakat, kesulitan masyarakat Tani semakin parah, untuk mendapatkan Obatan-obatan Pembasmi Hama Cabai, Kentang (Kubis), dan tanaman lainnya.
Dan termasuk pupuk penyubur tanaman yang sulit didapatkan dan harga diatas Harga Eceran Tetap (HET), Bupati Monadi, justru “diam” Janjinya memperjuangkan dalam visi dan misinya kian terkubur.
Padahal mayoritas pendukung memenangkan Monadi dalam Pilkada Kerinci dua tahun lalu, mayoritas Petani Kerinci, kini nasib petani tidak diperjuangkan maksimal, dan terkesan diabaikan?.
CAR FREE DAY setiap pagi Minggu bertempat di persimpangan empat, tugu jalur dua komplek perkantoran bukit tengah Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci kegiatan ini di sorot masyarakat pemborosan anggaran, hanya semata serimonial di tengah ekonomi yang lagi susah.

Tanggapan : Ismet Inono, salah satu tokoh Masyarakat Kelurahan Siulak Deras, yang juga mantan Wartawan saat di temui (30/6/2026) mengatakan kegiatan CAR FREE DAY (CFD) yang rutin di selenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kerinci di bawah kepemimpinan Bupati Kerinci Monadi, hanyalah pemborosan anggaran sementara anggaran sedang efesiensi, menurut kita kegiatan itu kuranglah elok bukan berarti tidak baik masih ada hal-hal lain yang di perlukan oleh masyarakat (petani) yang penting di utamakan, seperti Pupuk dan Obabatan-obatan hama penyakit.
Di katakan Memet CAR FREE DAY adalah kebijakan yang menuntut jalan utama dari kendaraan bermotor, untuk menciptakan ruang terbuka yang aman dan bersih. (Pencegahan macet) kegiatan ini tidak efektif dalam situasi Kerinci saat ini, demikian tegasnya.
Sementara itu Jon, 45 tahun warga Siulak, mengatakan kita menunggu terobosan dan program²-program Bupati Kerinci, Monadi yang mengarah ke sektor Pertanian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, karena masyarakat Kerinci mayoritas Petani berpenghasilan rendah.

Ditambahkan Jon, sudah seharusnya pemerintah memikirkan dan memperjuangkan Petani Kulit Manis (Cassiavera) Kerinci bila perlu pemerintah menyiapkan bangunan (gudang) khusus menampung hasil panen masyarakat di sektor Kulitmanis (Kayumanis) agar harga bisa tetap stabil contohnya seperti gudang Bulog, agar Petani pun tidak tertekan oleh harga.
Di tempat terpisah wahidil, SE, M. Si, AKt putra terbaik Kerinci yang telah lama melang-lang buana di perantauan Jawa-Sumatera, mengatakan sangat perihatin melihat kondisi Kerinci hari ini seharusnya pemerintah, kelolalah sektor Pertanian Industrilisasi Pertanian, standarlisasi Pertanian, maka petani bisa sejahtera dan petani bisa di gaji dan bangga dengan profesi (pekerjaan) nya sebagai petani.
Kalau benar Pemerintah Kabupaten Kerinci dibawah kepemimpinan Bupati Monadi, memang berniat baik merealisasikan visi dan misi sebagai pejuang petani.
Bukan retorika, hanya catatan di atas kertas. Harus di buktikan, bukan batas cerita?.
Di terangkan wahidil, kita putra daerah Kerinci harus berfikir ke arah itu (maju) apakah kita biarkan terus Kerinci ber-larut larut , terus seperti ini siapa lagi kalau bukan kita putra daerah, ujarnya.
Wahidil meminjam istilah “janganlah, bak jeruk makan jeruk” ber-kerjalah yang professional, jujur, benar di bidang nya masing-masing.

Lebih jauh di terangkan wahidil siapa pun pemimpin Kerinci, “letakkanlah, orang-orang cerdas, mampu, yang bisa berkerja, sesuai dengan kemampuannya, yang tidak bisa berkerja singkirkan (tidak perlu di pakai), termasuk keluarga sendiri. Kalau kita menginginkan perubahan di Kabupaten Kerinci ujarnya lantang.
Kritikan dan masukan di sampaikan, Adrifal, 45 tahun, menjelaskan sudah saatnya Pertanian Kerinci di tingkatkan menjadi Pertanian integritasi (Pariwisata berbasis Pertanian) untuk membuat kita bisa tarik wisatawan berkunjung ke Kerinci, ujarnya.
Jauh di terangkan Adrifal,… Pertanian yang ter-interigtasi sudah seharusnya di terapkan Pemdakab Kerinci bersama Petani Kerinci contohnya, Bukit Tengah layak dan cocok cuacanya untuk Penanaman buah buah premium dan perikanan (kolam), fasilitas hiburan seperti Pemandian Aila, dan di tambah dengan fasilitas olahraga dan Kuliner maka akan muncul ciri khasnya Kerinci.
Dan bisa menambah peningkatan sektor PAD (penghasilan asli daerah), dari berbagai sektor, jelasnya.
Di akhir keterangannya Adrifal, kepada wartawan media ini, mengatakan seputar kegiatan CAR FREE DAY tak banyak yang bisa kita Petik secara ekonomi yang jelas kegiatan itu mengajak masyarakat hidup sehat mungkinkah secara ekonomi, sekarang ini petani Kerinci mengeluh mahalnya harga obat di sektor Pertanian, semoga pemerintah cepat kembali kepada Slogan merealisasikan pejuang petani, untuk kesejahteraan, bukan batas cerita.
Bukan, sekedar cerita diatas kertas lanjutnya, dan laporan ABS (Asal bapak senang) dari bawahan), melaporkan ekonomi Kerinci meningkat?.
Slogan Petani Pejuang dan Pejuang Petani, setelah dua tahun Monadi Murasman menjabat Bupati Kerinci kondisi riil kemajuan pembangunan Kerinci kian menurun drastis, janji Monadi memperjuangkan Petani Kerinci sejahtera dan bahagia, masih jauh panggang dari apinya.
Tidak ada tanda akan bangkkitnya ekonomi masyarakat Kerinci, kalau cara kerja tidak dijalankan sesuai amanat dalam visi dan misi lima tahun kedepannya?.
Dari pada program kerja rutin Pemdakab Kerinci Car Free day setiap minggu yang juga pakai anggaran daerah, lebih baik usaha yang menyentuh perekonomian masyarakat langsung, dan menghasilkan ekonomi jangka pendek, seperti nanam Mentimun 40 hari sudah Panen sejak ditanam, jelas bisa menghasilkan karena Kerinci daerahnya Subur, curah hujannya lebih dari cukup.
Dengan perhitungan 1 kk (kepala keluarga) diberi Bibit Gratis dari Pemdakab Kerinci 1 Canting (satu Tekong), bisa menghasilkan perkepala keluarga (kk) dalam waktu 40 hari menghasilkan Tonan Timun, dan bisa mengisi kabupaten / kota se Propinsi Jambi dan propinsi tetangga.
Ini ekonomi rutin jangka pendek dan tidak muluk-muluk, kata warga.
Kendati Bupati Monadi mengatakan Car free day, dapat meningkatkan ekonomi dan kesehatan masyarakat Kerinci, dilihat dari kegiatan yang dilakukan, “Jalan santai bolak balik Bukit Tengah Lubuk Nagodang, kembali ke Bukit Tengah, lalu Senam Santai “Laki-laki perempuan, joget, di iringi music lagu daerah Rantak Kudo, terkadang Dankdut, dan lagu lainnya” yang disenangi rasanya, sulit menjawab Visi dan Misi Bupati Kerinci 2025 – 2029 mensejahterakan Petani Pejuang dan Pejuang Petani.
Pada bagian lain keterangan, Adripal . (47th) Acara car free day tidak efektif untuk menumbuhkan ekonomi kerakyatan karena pedagang kecil yang berjualan mengais rezeki saat car free day, bisa dihitung paling banyak 30 orang.
Sementara masyarakat Kerinci yang hidup miskin dan dibawah garis kemiskinan puluhan ribu jumlahnya, yang mayoritas bertani tinggalnya di ladang (kebun), tidak bisa dijawab dengan Car Free day, setiap minggunya?. Kata Afridal, tersenyum.
Dari keterangan dihimpun dan data diperoleh Topografi daerah Kerinci subur, curah hujannya cukup daerahnya pegunungan dan memiliki daerah dataran tinggi ribuan hektar dan dataran rendahnya yang cukup baik untuk pertanian, itu riil dan nyata.
Kesulitan ribuan Petani Kerinci mendapatkan obat-obatan Pembasmi hama yang mahal harganya, dan sulit didapatkan dan harga pupuk banyak di jual di atas harga eceran tetap (HET), tidak bisa dijawab dengan Car free day.
Tanpa merealisasikan kerja nyata dan dukungan teknologi bagi kemajuan pembangunan di bidang Pertanian terprogram dengan baik dan terukur, tidak bisa di ukur dengan carfreeday, “olah raga santai, joget, rentak kudo dan dank-dutan?”
Mengingat topografi daerah Kerinci cocok untuk Pertanian, tak heran nenek moyang Suku bangsa Kerinci memilih bertani, mayoritas menanam Kayumanis, Kopi, Sawah Fungsional, (Menanam Padi) dan mengembangkan lahan Tidur yang jumlahnya puluhan ribu hektar, kini terbengkalai.
Dan mengembangkan pertanian dengan menanam Sayu-sayuran (tanama muda), Kentang (Kubik) dalam bahasa Kerinci, Cabai (Cabe), Kemiri, dan sayuran lainnya.
Siapapun Bupati/ Pemimpin Kerinci kedepan harus meneruskan perjuangan para leluhurnya dengan sistem tetap bertani, harus didukung dengan peralatan Teknologi Pertanian yang tangguh, cepat dan menghasilkan, sesuai dengan potensi Kabupaten Kerinci. Diubah dari tradisional ke teknologi cepat dan tepat guna.
Lahan tidur berupa daratan (kering), dan lahan basah Persawahan yang ditinggalkan pemiliknya, karena airnya tidak cukup, jika dikembangkan dengan teknologi daerah irigasi teknis (D.I. Teknis lahan Tidur Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh lebih 30 ribu hektar bisa di garap, harus dengan dukungan SDM (Sumber Daya Manusia) yang mampu dan berteknologi.
Soalnya, Kerinci butuh ekonomi jangka pendek yang menghasilkan. Sedangkan Kopi, masih dalam jumlah kecil penanamnya, mayoritas Kayumanis yang butuh waktu panjang, minimal rata-rata 7 tahun baru bisa di panen?.
Dan jangka pendek pilihan sayur-sayuran, Sawah Fungsional, dan cetak baru. Dan tanaman Keras yang tepat dikembangkan di Kerinci, Kayumanis, Kopi, Kemiri (Kemintan) dalam bahasa Kerinci, Aren (Enau) dalam bahasa Kerinci. Ini menghasilkan produksi yang dibutuhkan masyarakat, dan nilai jual.
Dari pengamatan dan dukungan topografi daerah Kerinci tepat mengembangkan ekonomi jangka pendek, menengah dan jangka Panjang.
Kini harga Kayumanis, handalan masyarakat Kerinci sedang turun drastic, Kayumanis mutu terbaik Rp15.000,- / kg, dan Kopi Rp10. 500 / kg, jika tidak di topang dengan ekonomi rutin jangka pendek, masyarakat Kerinci bisa terancam krisis ekonomi jangka pendek dan panjang.
Untuk menjawab tantangan itu, fokuslah pada percepatan ekonomi dibidang pertanian dan berteknologi, sesuai program pemerintah untuk mencapai Swasembada Pangan Nasional. Maaf, “Pak Bupati Kerinci” tidak bisa dijawab dengan “Car free day” setiap minggunya?.
Laporan : Tim Wartawan Beo07.co.id / Marhaen Dj.SB.
Editor & Penanggungjawab : Gafar Uyub Depati Intan.





