Daerah Jambi
Beranda » Berita » Proyek RSUD Kerinci Rp187 Miliar : “Taruhan Nyawa” & Anggaran di Atas Tanah Labil Bukit Tengah

Proyek RSUD Kerinci Rp187 Miliar : “Taruhan Nyawa” & Anggaran di Atas Tanah Labil Bukit Tengah

KERINCI, BEO07.CO.ID — Sebuah megaproyek kesehatan bernilai fantastis di wilayah barat Provinsi Jambi kini tengah menjadi sorotan tajam publik. Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kerinci di Bukit Tengah, Kecamatan Siulak Mukai, kini berada di persimpangan jalan antara misi mulia kemanusiaan dan bayang-bayang ancaman bencana katastropik.

​Dengan total anggaran menyentuh angka Rp187,5 miliar, terdiri dari Rp137,5 miliar dana APBN Kemenkes untuk fisik dan Rp 50 miliar untuk alat kesehatan (alkes), proyek ini digadang-gadang menjadi penyelamat layanan medis masyarakat Kerinci. Namun, keputusan di sinyalir menancapkan fondasi beton di atas kawasan rawan longsor memicu alarm bahaya dari para ahli konstruksi dan aktivis lingkungan.



Megaproyek di Atas “Bom Waktu” Geografis

​Secara topografi, Bukit Tengah bukanlah lahan ramah konstruksi skala besar. Kawasan ini di dominasi perbukitan terjal dengan karakteristik tanah yang sangat labil. Pada musim penghujan, wilayah ini menjadi zona merah pergeseran tanah.

​Para pengamat pembangunan daerah mengingatkan bahwa membangun fasilitas vital seperti rumah sakit di area ini memerlukan standar keamanan di atas rata-rata.

​”Membangun fasilitas publik vital seperti rumah sakit di lereng perbukitan labil menuntut standar keamanan dan rekayasa geoteknik yang jauh di atas rata-rata. Jika struktur penahan tanah (retaining wall) dan sistem drainasenya tidak digarap dengan presisi ekstra, anggaran ratusan miliar rupiah ini sangat rentan terkubur bencana longsor,” ujar seorang pengamat kebijakan infrastruktur daerah, Rabu (15/07/2026).

​Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Rekam jejak pembangunan di kompleks perkantoran Bukit Tengah sebelumnya kerap diwarnai kerusakan dini akibat pergerakan tanah. Publik khawatir, struktur utama RSUD tipe C ini akan mengalami nasib serupa jika kontraktor pelaksana, PT PP Urban (Urban-Penta KSO), tidak menerapkan rekayasa struktural tingkat tinggi.

BACA JUGA :  "Anggaran Bodong" Nyantol di DPA RSUD Lebong, BKSDM Tidak Akui Keluarkan SK

Kejar Tayang : Target Ambisius Akhir 2026

​Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Pemerintah Provinsi Jambi tampaknya tidak memiliki rencana untuk mundur. Menggunakan skema tahun tunggal (single-year), proyek fisik ini dipatok harus rampung pada Desember 2026.

​Target super ketat ini menyisakan waktu yang sangat sempit untuk proses krusial seperti :

​Uji kelayakan jangka panjang (feasibility study lanjutan).

– ​Pemasangan dan kalibrasi alkes modern senilai Rp50 miliar.

​Transisi manajemen dan perekrutan tenaga medis.

– ​Running test kelayakan gedung sebelum resmi beroperasi pada awal 2027.

​Bagi Pemkab Kerinci, RSUD ini adalah “harga mati” politik dan sosial. Sejak pemisahan administratif dengan Kota Sungai Penuh, akses rujukan medis warga Kerinci menjadi sangat bergantung pada daerah tetangga. RSUD Bukit Tengah diproyeksikan menjadi pemutus rantai ketergantungan tersebut.

Antara Solusi Medis atau Monumen “Kegagalan”

​Kini, bola panas berada di tangan kontraktor pelaksana dan instansi pengawas. Taruhannya sangat besar: uang rakyat ratusan miliar rupiah dan keselamatan ratusan pasien serta tenaga medis yang nantinya akan beraktivitas di dalam gedung tersebut.

​Masyarakat kini hanya bisa berharap pada ketajaman taji Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta aparat penegak hukum untuk mengawal ketat setiap jengkal pembangunan fisik rumah sakit ini.

​Apakah proyek ini akan menjadi pembawa perubahan bagi kesehatan warga Kerinci, atau justru berakhir tragis sebagai monumen kegagalan konstruksi akibat memaksakan kehendak di atas tanah yang rapuh? Waktu yang akan menjawab nanti. (JEMI)

× Advertisement
× Advertisement