Bagian ke Tiga ( III ) – Selesai

Pada bagian ke tiga naskah (artikel) ini, banyak hal berkaitan dengan masalah sempitnya tempat usaha masyarakat Lebong disektor Pertanian diluar pemeliharaan Sawah Fungsional jika masih ada lahan Potensial (Potensi), yang bisa dikembangkan menjadi Sawah produktif, apa dan bagaimana langkah Pemdakab Lebong, dalam hal ini Bupati/ Kepala Daerah, bersama DPRD mencari Solusi (jalan keluarnya), untuk menjawab tantangan perekonomian masyarakat Lebong, yang semakin sulit?.

Ketua Presedium Lebong, H Syahili (alm). Dok/net
Untuk menjawab tantangan yang semakin komplek, terutama di bidang Perekonomian harus menjadi kajian di Negeri Srawang Patang Stumang, (Kabupaten Lebong), yang kita cintai ini, sekitar 70 % lebih berada dalam Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) artinya tidak bisa digarap sebagai daerah Pertanian dan usaha lainnya.


Pertanyaannya, kemana perekonomian masyarakat di arahkan pemerintah Kabupaten Lebong untuk usaha pengembangan, peningkatan ekonomi yang produktif. Mengingat TNKS yang tidak bisa digarap sebagai tempat usaha.
Berdasarkan data luas TNKS yang berada dalam wilayah propinsi Bengkulu seluas 310.910 ha (22,73%) terletak di Provinsi Bengkulu; dan berada dalam 9 Kabupaten, 43 Kecamatan dan 134 Desa.
Untuk Kabupaten Lebong yang luasnya 192.924 ha, hampir 70 % wilayah ini masuk pada kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dengan luas 117.000 ha. Ada sisa lahan lebih kurang, 85. 924 ha sudah termasuk lahan Sawah fungsional menjadi handalan masyarakat Lebong.
Dari hasil Sensus Penduduk 2010 diketahui laju pertumbuhan penduduk adalah sebesar 2,00% pertahun. Kecamatan dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Uram Jaya yakni 6,73% dan yang terendah adalah Kecamatan Pinang Belapis sebesar 0,67%.
Dengan luas wilayah 2.427,31 yang didiami 97.091 orang sebesar 40 jiwa/km . kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatannya adalah Kecamatan Lebong Utara sebesar 279 jiwa/km sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Padang Bano yakni 4 jiwa/km.

Mantan Ketua DPRD Lebong, H. Armansyah Mursalin Periode 2004-2009 (Alm). Dok/FB
Pertumbuhan penduduk. Jumlah penduduk hasil SP2010 di Kabupaten Lebong sebanyak 97.091 jiwa, sumber data Pemdakab Lebong.
Dengan jumlah penduduk hasil SP2000 sebesar 79.627 jiwa, maka laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Lebong per tahun selama sepuluh tahun terakhir yakni dari tahun 2000-2010 sebesar 2,00%.
Jika dilihat laju pertumbuhan penduduk perkecamatan yang tertinggi adalah Kecamatan Uram Jaya sebesar 6,73% sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Pinang belapis yaitu sebesar 0,67%.
Sedang untuk Kecamatan Padang Bano tidak bisa dilihat laju pertumbuhannya karena Kecamatan Padang Bano merupakan daerah pemukiman baru, sehingga data jumlah penduduk pada tahun 2000 tidak ada.
Tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Uram Jaya dikarenakan Kecamatan Uram Jaya dekat dengan pusat kota, selain itu wilayah yang tadinya rawa-rawa masih terus berkembang dan masih memungkinkan mengakomodir kebutuhan perumahan penduduk di sekitarnya.
Laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Uram Jaya sejalan dengan tingginya laju pertumbuhan rumah tangga dan pertumbuhan bangunan tempat tinggal.

Mantan Ketua DPRD Lebong, Azman May Dolan, S.E. Periode 2009 – 2014
Sedangkan laju pertumbuhan penduduk yang rendah di Kecamatan Pinang Belapis sebesar 0,67% dikarenakan kondisi wilayah Kecamatan Pinang Belapis yang tergolong sulit, selain itu kecamatan ini jauh dari pusat kota.
Pariwisata Taman Nasional di Kabupaten Lebong
Keberadaan taman nasional yang ada di Kabupaten Lebong adalah Taman Nasional Kerinci Sebelat.
Dari data yang ada, total luas Taman Nasional Kerinci Seblat secara keseluruhan yang meliputi 4 provinsi dengan hasil tata batas ditetapkan seluas 1.368.000 ha dan perincian sebagai berikut:
- seluas 353.780 ha (25,86%) terletak di Provinsi Sumatera Barat;
- seluas 422.190 ha (30,86%) terletak di Provinsi Jambi;
- seluas 310.910 ha (22,73%) terletak di Provinsi Bengkulu; dan
- seluas 281.120 ha (20,55%) terletak di Provinsi Sumatera Selatan.
Wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat tersebar di 9 Kabupaten, 43 Kecamatan dan 134 Desa. Untuk Kabupaten Lebong yang luasnya 192.924 ha, hampir 70 % wilayah ini masuk pada kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dengan luas 117.000 ha.
Dalam sejarah pembentukannya, taman nasional ini merupakan penyatuan dari kawasan-kawasan Cagar Alam Inderapura dan Bukit Tapan, Suaka Margasatwa Rawasa Hulu Lakitan-Bukit Kayu embun dan Gedang Seblat, hutan lindung dan hutan produksi terbatas di sekitarnya yang berfungsi hidroorologis yang sangat vital bagi wilayah sekitarnya.
Temperatur udara di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat rata-rata berkisar 07° – 28 °C dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/tahun pada ketinggian tempat 500 – 3.805 mdpl.
Kelompok hutan tersebut merupakan daerah aliran sungai utama, yaitu DAS Batanghari, DAS Musi dan DAS wilayah pesisir bagian barat, DAS tersebut sangat vital peranannya terutama untuk memenuhi kebutuhan air bagi hidup dan kehidupan jutaan orang yang tinggal di daerah tersebut.
Mengingat pentingnya peranan kelompok hutan tersebut, maka pada 4 Oktober 1982, bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia di Bali, gabungan kawasan tersebut diumumkan sebagai Taman Nasional Kerinci Seblat.
Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah sampai ekosistem sub alpin serta beberapa ekosistem yang khas seperti rawa gambut, rawa air tawar dan danau.
Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki 4000 jenis tumbuhan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, dengan flora yang langka dan endemik yaitu Pinus kerinci (Pinus merkusii strain Kerinci), kayu pacat (Harpulia alborera), bunga Rafflesia dan bunga bangkai.

Ketua DPRD Lebong Teguh Raharjo Eko Purwoto Periode 2014 – 2019 (dok.pribadi/Tribunnews)
Tempat Wisata. Objek wisata Lebong antara lain:
- Air Putih, Danau Picung, Danau Tes. Lebong Donok, Tambang Batu Mulia, Lubang Kacamata, PLTA Tes, Air Terjun Paliak
Flora dan Fauna. Taman Nasional Kerinci Seblat umumnya masih memiliki hutan primer dengan tipe vegetasi utama didominir oleh formasi: Vegetasi dataran rendah (200 – 600 mdpl), Vegetasi pegunungan/bukit (600 – 1.500 mdpl), Vegetasi montana (1.500 – 2.500 mdpl), Vegetasi belukar paku-pakuan (2.500 – 2.800 mdpl), Vegetasi sub alpine (2.300 – 3.200 mdpl).
Tidak kurang dari 4.000 jenis flora dengan 63 famili yang terdapat di kawasan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, Leguminosae, Lauraceae, Myrtaceae, Bommacaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Myristicaceae, Euphorbiaceae dan Meliaceae. Sedangkan pada ketinggian 500 – 2000 mdpl, didominasi oleh famili Fagaceae, Erycaceae dan semak-semak sub alpin dari jenis Vaccinium dan Rhododendron.
Beberapa jenis vegetasi yang khas di Taman Nasional Kerinci Seblat antara lain: Histiopteris insica berada di dinding kawah Gunung Kerinci, berbagai jenis Nepenthes sp, Pinus mercusii galur Kerinci, Kayu pacat (Harpullia arborea), Bunga Raflesia dan Agathis sp.
Hasil penelitian Biological Science Club (BScC) pada tahun 1993 di daerah zona penyangga ditemukan 115 jenis vegetasi etnobotanical yang banyak digunakan masyarakat setempat untuk berbagai keperluan seperti untuk obat-obatan, kosmetik, makanan, anti nyamuk dan keperluan rumah tangga.
Fauna yang tedapat dalam Taman Nasional Kerinci Seblat tercatat 42 jenis mammalia (19 famili), di antaranya: badak sumatera, gajah sumatera, macan dahan, harimau sumatera, kucing emas, tapir (Tapirus indica), kambing hutan; 10 jenis reptil; 6 jenis amfibi, antara lain: katak bertanduk (Mesophyrs nasuta), 6 jenis primata yaitu: siamang, Ungko, wau-wau hitam (Hylobates lar), simpai, beruk dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis).
Di samping itu sudah tercatat 306 jenis burung (49 famili), di antaranya 8 jenis burung endemik seperti: Tiung Sumatra (Cochoa becari), Puyuh Gonggong (Arborophila rubirostris), Celepuk dan Burung Abang Pipi (Laphora inornata).

Ketua DPRD Lebong, Carles Ronsen, S.Sos periode 2019 – 2024 hingga 2024 – 2029 (sekarang)
Program Konservasi Karbon, Secara nyata kekayaan alam sector kehutanan di Kabupaten Lebong merupakan potensi yang cukup besar, dan memilik daya jual cukup tinggi, seperti halnya Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) merupakan asset sangat berharga, dengan luasan Taman Nasional Kerinci 134.834,55 Ha adalah Kawasan Konservasi dengan peruntukan untuk Kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat 111.035,00 Ha, Hutan Lindung 20.777,40 Ha dan Cagar Alam 3.022,15 Ha.
Akar masalah pada satu model kabupaten konservasi seperti di Kabupaten Lebong ini adalah pengelolaan secara optimal, alasan tersebut wajar, karena keterbatasan biaya dalam pelaksanaan di lapangan, Kabupaten Lebong yang merupakan kabupaten baru, konsentrasi pembangunan saat ini terkonsentrasi pada dua sisi focus, yaitu perencanaan pembangunan dan pelaksanaan fisik pembangunan.
Sedangkan perencanaan untuk penetapan kawasan konservasi saat ini belum optimal, dan bersinergi dengan masyarakat, dan dampak yang paling buruk dari hal tersebut adalah munculnya beberapa pelanggaran terhadap kelestarian alam di kabupaten Lebong.
Berangkat dari akar masalah tersebut dapat disimpulkan pemberdayaan kawasan konservasi dimulai dari pemberdayaan masyarakat dan aparatur setempat, karena pengelolaan kawasan konservasi diperlukan SDM yang terampil.
Maka konsep carbon credit merupakan salah satu upaya untuk mendukung program kelestarian hutan di Kabupaten Lebong, dengan konsep mendatangkan devisa tanpa menebang pohon satu batang pun.

Menggeges, salah satu praktik MHA Rejang yang dilakukan dikebunnya untuk menghindari api yang menjalar saat membakar pohon yang ditebang. Foto: Dedek Hendry
Ekonomi, Pertanian. Produk pertanian yang menjadi unggulan berasal dari tanaman pangan, perikanan, dan perkebunan. Komoditas andalan dari tanaman pangan adalah padi. Sekitar 20.000 tenaga kerja menghabiskan sebagian besar waktu mereka di lahan persawahan.
Dari luas panen sedikitnya 8.000 ha, diperoleh 33.000 ton gabah kering giling. Selain untuk konsumsi lokal, padi juga dipasarkan ke Curup dan Kota Bengkulu. Sebagai produk unggulan, pertanian memberi kontribusi bagi pendapatan asli daerah melalui retribusi.
Perkebunan. Perkebunan yang menjadi primadona adalah nilam. Sekitar 4.000 pekerja menggarap lahan nilam seluas 575 ha. Dari luas seluruhnya, terdapat tanaman menghasilkan seluas 171 ha yang memproduksi 16,84 ton nilam.
Dengan menggunakan kayu bakar, nilam mengalami proses penyulingan menjadi minyak nilam.
Minyak ini kemudian dipasarkan ke Kota Medan di Sumatera Utara. Perkebunan, terutama kopi dan nilam, memberi kontribusi terhadap PAD. Pemkab Lebong tengah mencari cara baru untuk proses penyulingan minyak nilam. Selama ini masyarakat menyuling secara tradisional dengan bahan bakar kayu.
Perikanan. Di sektor perikanan, komoditas unggulan kabupaten ini adalah ikan mas. Untuk meningkatkan produksi ikan mas, yang merupakan primadona dari perikanan, Pemkab Lebong mengadakan balai benih ikan yang berfungsi sebagai penyedia bibit ikan. Usaha lainnya adalah memelihara jalan untuk memperlancar pengangkutan hasil ikan ke pasar.
Pertambangan. Di sektor pertambangan selain emas, tanah kabupaten Lebong mengandung berbagai macam bahan galian golongan C. Hasil galian yang masuk dalam golongan ini, seperti marmer, batu kapur, pasir kuarsa dan kaolin, juga sering disebut sebagai bahan galian industri.
Penambangan bahan galian C tidak memerlukan teknologi canggih dan umumnya dilakukan secara tradisional sebagai tambang rakyat.
Lokasi Perencanaan Kawasan Konservasi Karbon. Kabupaten Lebong wilayah hutan lindung atau kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, yaitu di kecamatan: Kecamatan Rimbo Pengadang, Kecamatan Topos, Kecamatan Lebong Selatan, Kecamatan Bungin Kuning, Kecamatan Lebong Sakti, Kecamatan Lebong Tengah, Kecamatan Lebong Utara, Kecamatan Amen, Kecamatan Uram Jaya, Kecamatan Pinang Belapis, Kecamatan Lebong Atas, Kecamatan Pelabai, Kecamatan Padang Bano.
Penentuan kawasan konservasi karbon ini pada kecamatan-kecamatan yang memiliki wilayah berdasarkan pada kawasan hutan lindung dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), karena wilayah tersebut yang bersentuhan langsung dengan program Carbon Conservation, dengan luas yang akan di konservasikan seluas 60,2% (119,612.9 ha).

Foto/Dok : Tampak hamparan sawah di Kabupaten Lebong. ABDI/RB
Referensi.
1.Lompat ke: “Bupati Kabupaten Lebong”. Kabupaten Lebong. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-12-07. Diakses tanggal 7 Desember 2021. {{cite web}}:
2.Lompat ke: “Visualisasi Data Kependudukan – Kementerian Dalam Negeri” (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id.
Diakses tanggal 25 Januari 2025.
3.“Indeks Pembangunan Manusia (Umur Harapan Hidup Hasil Long Form SP2020), 2023-2024”. www.bps.go.id. Badan Pusat Statistik. Diakses tanggal 25 Januari 2025.
4.“Perpres No. 10 Tahun 2013”. 4 Februari 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-02-14.
Diakses tanggal 15 Februari 2013. {{cite web}}:
5.Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya 1989, hlm. 17.
6.“Letak Geografis Kabupaten Lebong”. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-11. Diakses tanggal 2012-11-3. {{cite web}}: ; Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
7.“Sekilas Kabupaten Lebong”. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-04-08. Diakses tanggal 2012-11-3. {{cite web}}: ; Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
0.Marsden, William (1783). The History of Sumatra, containing An Account of the Government, Laws, Customs, and Manners of the Native Inhabitants, With a Description of the Natural Productions, And a Relation of the Ancient Political State of the Island. Dicetak untuk penulis semata. hlm. 36, 37, 40, 178, 201. {{cite book}}: |ref=harv tidak valid
10.Yuliani, Elizabeth Linda (2006). Multistakeholder Forestry: Steps for Change [Kehutanan Multipihak: Langkah menuju Perubahan]. Bogor: Center for International Forestry Research. hlm. 112. ISBN 9789792446791.
Diakses tanggal 7 Desember 2021. {{cite book}}: |ref=harv tidak valid
11.“Lebong Herritage”. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-02-16. Diakses tanggal 2012-11-3. {{cite web}}: ; Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
12.“Sejarah Berdirinya Kabupaten Lebong”. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-11. Diakses tanggal 2012-11-3. {{cite web}}: ; Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
13.Profil Bupati Pertama Lebong, Dalhadi Umar Diarsipkan 2021-07-18 di Wayback Machine., diakses 22 Desember 2020.
- Supandi, Hery (26-02-2021). “Lantik 7 Bupati, Gubernur Bengkulu Ingatkan Kekompakan di Masa Pandemi”. detikcom. Diakses tanggal 27-02-2021.{{cite news}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
15.“Daftar Lengkap 481 Pasangan Kepala Daerah Dilantik Prabowo Hari Ini”. cnnindonesia.com. 20-02-2025. Diakses tanggal 20-02-2025. {{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
16.Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Lebong Periode 2014-2019
17,“Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Lebong 2019-2024”. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-07-18. Diakses tanggal 2020-05-19. {{cite web}}:
18.“Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan”. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
- “Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan”. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
20.“Situs web resmi Pemda Lebong”. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-12-06. Diakses tanggal 2012-12-01. {{cite web}}:
21.“Kondisi Penduduk Kabupaten Lebong”. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-04-08. Diakses tanggal 2012-11-3. {{cite web}}: ; Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
22.“Laju Pertumbuhan Penduduk”. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-11. Diakses tanggal 2012-11-3. {{cite web}}: ; Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
Daftar pustaka. Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (1989). Arti perlambang dan fungsi tata rias pengantin dalam menanamkan nilai-nilai budaya daerah Bengkulu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. hlm. 17. {{cite book}}: |ref=harv tidak valid
Pranala luar. Halaman ini terakhir diubah pada 16 April 2026, pukul 02.04.
Halaman dirender menggunakan Parsoid. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. ( *** ).




