Belakangan ini, sejumlah pejabat warga Rejang Lebong, Bengkulu, mengeluhkan masih adanya oknum Wartawan yang main gertak-gertak, terhadap objek liputannya, sebut saja namanya, โCan Rusliโ (50) nama samara, nama aslinya tersimpan rapi, dari sebuah mediaonline.
Ini info awal, kata Cahaya Usman, (48) namanya juga disamarkan, salah satu pejabat, di dinas Institusi pendidikan, Rabu (26 Agustus 2026) diruanng tamu dikantornya di Kota Curup, sekitar pkl 11.30 WIB, mengatakan โsaya jadi risih, era digital ini, masih ada oknum Wartawan main gertakโ Via sambungan telephone. Tanpa, mengindahkan pelanggaran!
Sikap saya selama ini sebagai, aparatur sipil Negara yang diberi tugas oleh Negara mengemban amanat oleh Negara di bidang pendidikan sebagai kepsek tingkat SMA/ sederajat, sangat terbuka dan bertanggungjawab, jika ada masalah tidak pernah saya lari dari masalah, dari masalah kuliah di FKIP saya sudah terbiasa bergaul dengan para Jurnalist (Wartawan) dan LSM, kata Cahaya Usman.
Bukan saya takut, oknum Wartawan yang saya maksudkan bergaya โpreman-premanโ main gertak, saya kalau bukan memegang amanah dan tugas diberikan Negara kepada saya untuk membangun generasi muda yang cerdas, punya SDM yang baik, saya siap hadapai oknum Wartawan itu secara fisik.
Saya kan sudah membuka pintu, silakan datang ketempat saya untuk klarifikasi, tentang apa saja saya tidak akan lari dan akan menjelaskan, papar Cahaya Usman lirih.
Memang Wartawan yang saya maksud pernah datang kekantor kita ini, tapi tidak bicara masalah apa-apa, hanya minta di kondisikan โminta belanjaโ saya tidak bisa kondisikan, soalnya kondisi saat ini yang sangat tidak memungkinkan.

Ilustrasi/ Wartawan gadungan ada di mana-mana, Ngakunya tetap Wartawan, tapi tanpa Karya Jurnalist, dia ada dan muncul tanpa berita (Muntaber). Dok
Dan bukan berarti, kita tidak mau bantu.
Lalu berselang beberapa waktu yang bersangkutan menelephone dan menggertak saya, akan anuโฆ..akan di inikanโฆ.banyaklah alasannya ?
Inikan cara-cara yang tidak sehat, tidak professional?
Memang oknum Wartawannya, anak baru di dunia Wartawan.
Semua data jejak digitalnya sudah terekam dengan baik, sebagai data bila diperlukan.
Namun, saya selaku kepala sekolah/ aparat kecil sangat sebagai salah satu Vilar ke empat dalam Negara demokrasi, menghargai tugas, dan fungsi Pers dan tugas-tugas wartawan dalam mencari berita, bukan dengan cara seperti itu, tandas Cahaya Usman, โgeram?โ Ini sengaja saya konsultasikan dengan para Wartawan senior, ujarnya.
Maka ini saya ceritakan pada Wartawan-wartawan Senior yang sudah banyak menelan dan merasakan lika-likunya sebagai Wartawan, tidak ada seperti yang dilakukan oknum Wartawan โCan Rusliโ yang disamarkan ini, nama lengkapnya (tersimpan) rapi, termasuk nama mediaonlinenya tempat ia bekerja.
Masih mengutif keterangan Cahaya Usman, karena gertak-gertak di lakukan via sambungan telephone, maka saya menjaga nama baik yang bersangkutan, bila hal ini dilakukannya di kantor ini (kantor saya), maka saya akan mengambil sikap tegas apapun akan saya layani jelasnya.
Dari keterangan dihimpun Tim OPINI Perjuangan Beo07.co.id, 24 Agustus 2026 dan data-data wartawan yang berada dalam organisasi wartawan, PWI Cabang Curup, DPD-KWRI Prop. Bengkulu yang berkantor di Air Putih Baru Curup, SMSI dan APPI, belum ditemukan data oknum Wartawn tukang gertak itu.
Apa belum terdaftar, atau berasal dari luar daerah. Belum tahu?
Kenapa data ini menjadi penting? Karena secara organisasi Ketua / Pengrus punya kewenangan melakukan pembinaan, sebelum peristiwa besar terjadi yang dapat menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap Profesi dan pekerjaan Wartawan, padahal yang berbuat hanya segelintir oknum.
Belum pudar dalam ingatan masyarakat Rejang Lebong, adanya oknum Wartawan bertempat tinggal di Taba Renah, menjual nama Waratawan Haris, gertak akan memberita kan kepala desa (kades) Lubuk Ubar dan meminta uang?
Berangkat dari fakta data yang sudah terjadi, jangan terulang kembali di instansi lainnya.
Ini patut diduga permainan kotor para mafia busuk di tingkat bawah, karena di Rejang Lebong sudah sering terjadinya penipuan mengatas namakan Wartawan dan LSM, dan pelaku ada yang sudah keluar dari penjara.
Namun tak membuat efek jera?.
Untuk menjaga nama baik Pers Perjuangan Indonesia, Kemerdekaan Pers dan kebebsannya menyampaikan pendapat semata untuk kebenaran, tidak untuk mengadakan pembenaran bagi kepentingan oknum, kelompok tertentu.
Disinilah para pejabat Negara/ daerah perlu selektif membaca kinerja wartawan, mana wartawan benaran yang punya Karya Jurnalistik, mana yang asal jadi wartawan atau wartawan-wartawanan.
Dan atau yang ngaku-ngaku wartawan, hanya bermodalkan โKartu Pers dan Surat Tugasโ karyanya tidak ada, itu bisa di lihat dari media mana ia bergabung?
Kini jumlah Wartawan terus meningkat, baik yang terdaftar di organisasi wartawan yang sah, maupu yang tidak terdaftar di organisasi.
Wartawan kian menjamur:ย Sejak sepuluh tahun terakhir, jumlah wartawan meningkat tajam, ada yang semata pelarian. Karena tidak lulus Tes di ASN / PPPK, Tes TNI / Polri, dan tes di perusahaan professional yang membutuhkan tenaga ahli, gagal, tiba-tiba jadi wartawan. Ini namanya โwartawan jadian?โ
Tidak belajar dan tidak punya karya Jurnalist, hanya mengantongi kartu pers dan surat tugas sebagai tanda / identitas sebagai wartawan.
Dan ditambah lagi punya keterangan / sertipikat lulus UKW (Uji Kompetensi Wartawan), dengan membayar dari Rp1.050.000, untuk Pemula, s/d Rp1.900.000, Madya dan Rp2.500,000,- utama setingkat Pemimpin Redaksi, dan mendaftar di Dinas Kominfo, hanya untuk mendapatkan uang kerjasama, yang dikeluarkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Dari data diperoleh, ada bentuk pembodohan agar Wartawan (Jurnalist), tidak menulis kejahatan oknum pejabat negara/ daerah merampok uang rakyat, lewat penyalahgunaan jabatan dan wewenangnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD), yang tengah di tegaskan dan dikejar Presiden Prabowo Subianto, pemberantasannya, dan mengembalikan uang korup ke kas Negara / kas daerah, untuk digunakan membangun kepentingan rakyat.
Sedangkan Fungsi, Tugas, Wewenang dan Independensi Wartawan telah di atur dalam UU No.40 tahun 1999 tentang Pers dan 11 point pedoman Kode Etik Jurnalistik (KEJ) Wartawan Indonesia, di patuhi.
Seharusnya dengan menjamurnya jumlah wartawan, di mediaonline, Televisi, Siaran saat ini, seharusnya menjamur pula jumlah pemberitaan setiap harinya, baik berita Serimonial dimulai dari โberita Budaya, Sastra dan Hiburan โ Penyampai Berita Pembangunan apa adanya dan berita Kontrol Sosial dan Sosial Kontrol, muara dan tujuan akhir mencari Kebenaran, bukan pembenaran?โ
Berdasarkan fakta, terkecohnya pejabat / masyarakat karena identitas yang di kantongi oknum wartawan berupa surat tugas (st), kartu pers, kartu pers organisasi, dan UKW, karyanya tidak ada?.
Dan itulah yang di akui Wartawan, tak heran banyak oknum pejabat kena bohongi.
Dalam rubrik OPINI Perjuangan dan Catatan yang terabaikan, dimedia Beo07.co.id – sudah banyak tulisan yang diturunkan tentang Fungsi, wewenang dan Tugas Wartawan, termasuk dugaan penyalahgunaan wewenag, yang bertentangan dengan 11 point Kode Etik Jurnalistik (KEJ), tapi masih banyak oknum wartawan yang mengabaikannya?.
Artikel seputar wartawan : Antara lain, berjudul : Wartawan Apa Yang Engkau Cari ? Angkatlah Penamu Jangan Jadi Penonton di Kampung Sendiri, Tugas Mulia Wartawan Tergadaikan? Dan Tugas Wartawan Hanya Mencari Kebenaran.
Dihimbau kepada seluruh rekan Wartawan dimana pun berada, mari โkita jaga marwah perjuangan Pers Nasional, kalau bukan kita siapa lagi?โ
Kita perlu mengingat dan mengenang para tokoh Pers Nasional mulai dari RM Tirto Adhi Suryo Pers pertama berbahasa Malayoe 1907, berakhir perjuangannya di penjara Belanda, lalu diasingkan ke Maluku Utara, daerah Ambon. Dan meninggal dunia.
Mochtar Lubis Wartawan Perang, Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya, yang banyak menulis tentang Kemerdekaan Bangsa kita dan mengibarkan Bendera Merah Putih, dia juga Sastrawan dan Budayawan, pernah di penjarakan 9 tahun di era Presiden RI Soekarno, dan sejumlah nama besar lainnya.
Pers ini lahir dari perjuangan sakit para pendahulunya di tengah era penjajahan Belanda. (***) โ
Penulis/ Editor: Ketua DPD-KWRI Prop.Bengkulu, Pengamat masalah Kemiskinan di Pedesaan, yang juga Pemimpin Redaksi Beo07.co.id -.





