
Pendidikan formal dan non formal mencetak generasi berilmu sebagai asset bangsa dan individu, sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan yang serba kompleks, hari ini dan esok tanpa batas, selagi hayat dikandung badan butuh ilmu, untuk menjawab tantangan, minimal yang berkembang disekitar kita, lingkungan dan daerah, nasional serta globalisasi dunia.
Kini tengah menghadapi Liga Korupsi, sejak dua periode Joko Widodo, berkuasa sebagai Presiden RI ke 7 peningkatan mutu pendidikan terabaikan, bahkan dana pendidikan di korupsi dan Menteri Pendidikan Nabiel Makarim diputus majelis hakim kurungan 10 tahun penjara, namun tidak menjangkau mantan Presiden, kendati Nabiel berkicau adanya pihak lain yang terlibat.
Kompleksnya masalah yang dihadapi masyarakat luas, dalam berbangsa dan bernegara, di iringi perubahan besar dalam hitungan hari, bulan dan tahun suka tidak suka menyeret masyarakat kedalam masalah dan perkembangan yang terjadi hari ini dan seterusnya. Untuk menjawab tantangan itu, kita perlu generasi yang ber-ilmu, cerdas, dan ber-akhlak calon pemimpin masa depan, dan anti korupsi.


Sangking pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan serba modern dan canggih ini, seiring kemajuan teknologi dengan kecerdasan generasi eranya harus mampu membedakan mana yang baik, mana yang buruk, dan yang tidak memiliki azasmanfaat bagi kehidupan hari ini, dan merusak masa depan generasi, kelompok, daerah dan bangsa.
Semua ini dampak negative dari teknologi canggih yang bisa di akses kapan saja, misalnya contoh yang mudah kita kenali dan hampir seluruh ย dunia memakai hanphone cell (hp) dari harga termurah, apa lagi yang sangat canggih dan mahal bisa mengakses apa saja yang disenangi pemakainya?.
โPorno Grafi, Film bebas Sex tanpa sensor, ajaran Sesat, Terorisme, dan sejumlah kejahatan lainnya, bisa tampil jika di akses oleh pemilik hp?โ
Dan sebaliknya Hp, juga sumber ilmu pengetahuan, jika digunakan dengan benar, bagi semua orang, apa lagi dunia pendidikan.
Antara kemajuan teknologi, dan ilmu pengetahuan jawabannya pendidikan yang dan handal pada generasi muda kita saat ini, sebagai asset bangsa jangka panjang. Mencetak generasi muda yang berilmu dan ber-ahklak, di tangan merekalah negeri ini bisa di selamatkan. Antara ilmu, akhlak, berbudhi luhur, dan ber-iman kepada tuhannya harus seimbang.
Soalnya ilmu pengetahuan (cerdas) tanpa tanpa ahklak yang baik, ilmu di khawatirkan jadi alat kejahatan. Karena tidak selalu orang ber-ilmu bisa membangun Negara secara benar dan beradap.
Maka dipandang perlu, membangun pendidikan sepanjang hayat dengan meminjam istilah โbelajarlah dengan batas akhir di liang lahat, berarti kematian secara zahir atau duniawiโ Harta, yang kita investasikan kepada anak-anak (generasi muda) adalah penidikan yang baik dan bermutu siap menghadapi tantangan, dan kompetitip di segala bidang.
Pendidikan sepanjang hayat menjadi konsep penting di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses belajar yang berhenti setelah seseorang lulus dari sekolah atau perguruan tinggi, melainkan sebagai aktivitas belajar yang terjadi secara terus-menerus sejak lahir hingga sepanjang hayat.
Selesai dari pendidikan menengah atas, dan perguruan tinggi punya karya yang bisa membuahkan hasil, bukan batas mengantongi Ijazah, apa lagi โIjazah Aspal, asli tapi Palsuโ kata Noprianto, mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Rejang Lebong.
Penulis OPINI Perjuangan ini, mohon izin mengutif pendapat Bung Rocky Gerung, Ijazah membuktikan orang pernah sekolah,(belajar) formal, tapi belum tentu berfikir atau ber-ilmu.
Melalui pendidikan sepanjang hayat, individu memiliki kesempatan untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap agar mampu beradaptasi dengan tantangan zaman.
Pendidikan sepanjang hayat ialah investasi jangka panjang yang memberikan banyak manfaat bagi setiap indivisu.
Proses belajar yang tejadi secara berkelanjutan dan terus menerus membantu meningkatkan kompetensi kerja, memperluasย wawasan, dan memperkuat kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Selain itu, pendidikan sepanjang hayat juga memiliki kontribusi besar bagi pembangunan bangsa.
Masyarakat yang gemar belajar akan lebih siap menghadapi perubahan, memiliki produktivitas yang tinggi, dan mampu untuk berinovasi.
Dalam pendidikan sepanjang hayat, peran pendidikan formal, nonformal, dan informal sangat penting dalam membangun budaya belajar sepanjang hayat di masyarakat.
Pendidikan formal memberikan dasar pengetahuan dan keterampilan, pendidikan nonformal memperluas kesempatan belajar melalui pelatihan dan kursus, sedangkan pendidikan informal berlangsung melalui keluarga dan lingkungan sosial.
Dengan demikian, pendidikan sepanjang hayat bukan sekadar konsep, akan tetapi kebutuhan nyata bagi setiap individu dan bangsa.
Investasi dalam pendidikan yang berkelanjutan akan menghasilkan masyarakat yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing tinggi. Dikutif dari berbagai sumber, tujuannya menghimbau kita semua untuk memberikan ruang dan waktu pada anak-anak muda, dan mendorong generasi muda minimal berpendidikan akhir Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dan Strata satu (S1) di semua bidang Study. ( *** ).
Penulis / Editor : Ketua DPD-KWRI Propinsi Bengkulu, Pengamat masalah kemiskinan di Pedesaan, Putra asli Tanah Kerinci, yang juga Pemimpin Redaksi Beo07.co.id โ Tinggal di Kota Curup, Bengkulu.




