Opini Perjuangan
Beranda ยป Berita ยป Panas & Kemarau : Masyarakat Lebong Terancam Turun MT

Panas & Kemarau : Masyarakat Lebong Terancam Turun MT

Sebagian petani Talang Leak II melaksanakan turun tanam. Dok BEO/Lebong (11/9/2026).

Rasa panas yang tinggi, di iringi Kemarau timbulkan udara panas, yang mengganggu rasa nyaman masyarakat, akibat tingginya rasa panas dan tanpa hujan mengancam Musim Tanam (MT), karena tanpa air, se- Kabupaten Lebong.

Area persawahan masyarakat Desa Ujung Tanjung I, Kecamatan Lebong Sakti telah melakukan turun tanam. Dok BEO/Lebong (11/9/2026).

Akibat kemarau ratusan hektar Sawah fungsional tanpa air, dampak yang luar biasa di khawatirkan masyarakat, mereka tidak bisa turun melakukan kegiatan Musim Tanam (MT) hal ini diungkapkan Rizal Wajo, SH salah satu kepala keluarga (kk) yang baru saja Tabur benih untuk persiapan ikut MT-2026, sangat terganggu katanya, karena tanpa air, sangat dikhawatir gagal melakukan MT (Musim Tanam), otomatis mengancam kehidupan masyarakat Lebong, ujarnya.

Menurut Rizal Wajo, masyarakat berharap langkah apa yang yang akan dilakukan Pemdakab Lebong, bersama masyarakat, kalau sampai kemaraunya panjang, dan masyarakat tanpa air otomatis tidak bisa turun tanam kesawah, jelasnya.

Kondisi Sungai Ketahun mengalami pengurangan debit air. Dok BEO/Lebong (11 September 2026)

Maka pentingnya di lakukan koordinasi (duduk) satu meja, jalan apa yang harus di tempuh sebagai solusi, jelasnya.

Indra Gunawan Plt Kadis PUPR Perhubungan Kabupaten Lebong, dihubungi Via sambungan telephone Selullarnya Jum,at 11 September 2026 sekitar pkl 15.WIB mengatakan kondisi riil dilapangan memang masyarakat sebagian tanpa air sama sekali, dan sebagian ada airnya tapi kecil, jelasnya.

Kita dari Dinas PUPR Perhubungan Lebong, CQ Bidang SDA/ Pengairan, telah turun kelapangan memang seperti itu adanya, ada yang kering, dan tidak cukup air. Dan ada yang masih ada airnya, tinggal berbagai dengan baik dan merata, jelasnya.

Maka kita menghimbau, kepada para Petani yang daerah irigasinya (D.I.) ada airnya, agar memanfaatkan secara bersama-sama, dengan cara berbagi dan efesien penggunaannya, jangan sampai boros, karena airnya ada, itu pun sedikit ujarnya.

BACA JUGA :  "Merintis Usaha, Tanpa Mengeluh"

Soal ancaman kekeringan bukan daerah kita saja, daerah lainnya juga terjadi, jelasnya. Kita dari dinas telah tinjau, kondisi sejumlah daerah irigasi (D.I.) airnya memang kecil dan ada yang sangat kecil, dan kekeringan, jelasnya.

Maka kita himbau para petani pemakai air untuk hemat dan berbagi sesame petani yang membutuhkan, mari sama-sama kita fahami kondisinya menyeluruh, bukan kita saja yang kena kemarau daerah lain, juga banyak yang dilanda kemarau dan kondisi panasnya terasa cukup tinggi, jelasnya.

Dalam pemantauan Tim OPINI Perjuangan dilapangan. Kamis dan Jum,at kondisi riil debiet AirSungai Ketahun yang menjadi Bendungan Air Ketahun, terjadi penyusutan total, hal itu dapat dilihat dari kondisi bangunan yang biasanya lebih tinggi airnya, namun setelah Kemarau terlihat menurun drastis.

Namun tidak di ketahui secara pasti berapa M3 kubik, atau berapa Liter / detik, kehilangan air di musim kemarau ini, karena tidak ada alat pengukur air otomatis (drempel) untuk mengetahui berapa M3/ detik/ menit menurunnya Debiet Air Daerah Irigasi Teknis Air Ketahun atau hitungan liter / detik.

Dan tidak ditemukan aparat petugas di lapangan, kalau-kalau ada yang memantau dan untuk mengetahui tentang penurunan debiet air, sama sekali tidak ada?

Alat berat excavator Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum masih terlihat usai membersihkan material pasca bencana beberapa waktu lalu, akibat menumpuknya material pintu Daerah Irigasi (D.I.) Air Ketahun, Kabupaten Lebong. Dok BEO/Lebong

Semuanya kira-kira, hanya mengatakan kecil dan tidak cukup untuk mengairi ribuan hektar Sawah penduduk.

Kalau terjadi kemarau panjang, diperkirakan akan terjadi gagal MT (Gagal Musim Tanam), otomatis akan gagal Panen pada tahun 2026, sedangkan Lebong masyarakat hanya menghandalkan Persawahan Fungsional, sebagai usaha handalan untuk kehidupan sehari-hari, dan tidak punya usaha lainnya, yang bisa di handalkan seperti Tambang Emas tradisional rakyat, Kebun (Ladang) Kopi, karena wilayah Kabupaten Lebong 70 persen berada dalam Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), untuk pengembangan sektor Pertanian dan tambang rakyat, sangat sulit.

BACA JUGA :  RATUSAN KADES & BPD SE-REJANG LEBONG RESAH 5 BULAN TANPA INSENTIF

Khusus Bendungan Besar Air Ketahun yang mengairi lebih kurang, 1, 3 ribu hektar Sawah fungsional, sedangkan ke seluruhan ditambah dengan daerah irigasi teknis, semi teknis dan non teknis dibawah pengelolaan Kabupaten Lebong, dan Pertanian, tersebar di Kecamatan Amen, Lebong Utara, Lebong Atas, Lebong Tengah, Bungin Kuning, dan Lebong Selatan, total keseluruhan sekitar lebih kurang 8 ribu hektar, bisa terancam, jika kemarau berlansung panjang.

Dengan kondisi yang terjadi saat ini Kemarau, dan hawa panas yang cukup tinggi, mengganggu aktivitas masyarakat Pemdakab Lebong, bersama DPRD Lebong, harus duduk satu meja jangan sampai menunggu setelah terjadi peristiwa baru kita repot berfikir keras, mau diapakan peristiwaseperti ini?.

Kalau daerah lain, kabupaten dan kota memiliki usaha lain, seperti Karet, Kelapa Sawit, Kopi, Sayur-mayur dan tanaman keras lainnya, Kota ada industri lainnya.

Sebagian petani Talang Leak II saat melakukan turun tanam. Dok BEO/Lebong (11/9/2026)

Lebong hanya semata menghandalkan Sawah Fungsional, jika tahun 2026 ini, gagal turun Musim Tanam (MT), berarti Lebong Gagal Panen, jika sampai Kemarau berlangsung lama, otomatis Pertanian Sawah tanpa air akan terganggu total, sangat di khawatirkan masyarakat Lebong, โ€œpecah kleik/ kesulitan ekonomi sangat tinggiโ€ karena penghasilan tidak ada ?

Dengan kondisi yang baru mengancam ini, kedepan Bupati/ Wakil Bupati bersama DPRD Lebong, mencari solusi jauh-jauh hari sebelum terjadi musim Kemarau, ada usaha masyarakat lainnya yang active seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yang harus di gerakan, jauh-jauh hari dan di awasi dengan baik, agar bisa berkembang, salah satu alternative bagi masyarakat Lebong, bila ancaman Kemarau berlangsung panjang?.

Kita tidak berharap Kemarau panjang terjadi, namun antisipasi kedepan perlu dilakukan harus ada alternatif bila terjadi kemarau panjang, karena masyarakat Lebong tidak punya handalan lain selain Sawah Fungsional, yang turun temurun sejak nenek Poyang Suku Bangsa Rejang meninggalkan karya besarnya adalah Sawah, sesuai dengan topografi daerah Lebong, hamparan dataran rendah dan cukup air.

BACA JUGA :  BUPATI AZHARI : LEBONG MAU DIBAWA KEMANA ?

Dan info terkini di peroleh dari lapangan Jum,at sebagian besar masyarakat sudah turun tanam, bagi daerah irigasi yang airnya masih cukup, dan sebagian yang airnya memang kecil, iya tidak turun tanam karena tanpa air.

Kondisi debit air Sungai Ketahun di daerah Lebong Sakti, 11 September 2026. Dok BEO/Lebong

Kini bagaimana caranya berbagi air, melalui pintu bangunan bagi masing-masing, baik di D.I. Teknis Bendungan Air Ketahun, dan 88 Daerah Irigasi (D.I.) yang dibawah pengelolaan Dinas PUPR Perhubungan Lebong, Bidang Sumber Daya Air (SDA) / Pengairan, harus membaca kondisi yang terjadi saat ini, dan apa yang harus di lakukan?

Kondisi debit air Sungai Ketahun yang berlokasi di Talang Bunut – Pangkalan, 11 September 2026. Dok BEO/Lebong

Maka jauh-jauh hari sistem daerah irigasi (D.I.) yang di kelola Bidang Pengairan Kabupaten Lebong, 88 D.I. harus mampu mengelola secara teknis, diluar kemarau. Oke, jika kemarau masih ada alasan, ini perubahan cuaca dari musim hujan, mendung (lembab) ke musim Panas/ Kemarau, terjadi penyusutan air. (***).

error: Content is protected !!
ร— Advertisement
ร— Advertisement