“ILMU MILIK ORANG YANG TEKUN BELAJAR & BERFIKIR” Menghibahkan Ilmu Gratis, Mencetak generasi Cerdas!
Strategis cara belajar, dimulai dari hati dan kejujuran belajar dengan ikhlas, dan ketekunan mencari ilmu (belajar) untuk membuka mata kebenaran, melihat yang benar, mendengar dengan baik, jangan sombong, angkuh, dan merendahkan orang lain dengan ilmu yang anda miliki. Belajarlah tanpa batas waktu sampai menghembuskan nafas terakhir di liang lahat.
Belajar dari Kerendahan hati dan kejujuran, Ilmu bukan alat pujian apa lagi merendahkan orang lain, Ia diharapkan mampu memberikan azasmanfaat pada orang lain.
Ilmu, tetaplah ilmu yang membuka hati untuk kebaikan dan menembus gelap tanpa batas, agar kita tidak tersesat di alam yang terang?.
Karena alam yang terang isinya tidak selalu cahaya, banyak titik buramnya yang perlu di bersihkan dengan ilmu, dan kejujuran, cedas, berani, tanpa ahklak dan kejujuran akan merusak kepentingan yang lebih besar, sudah banyak contoh “orang cerdas, jadi penjahat”


Anda lebih baik memuliyakan orang lain, dan jangan sekali-kali memandang rendah seseorang.
Apa yang kita miliki, termasuk ilmu adalah titipan dari Tuhan, Alllah SWT, yang harus diberikan untuk mengajak orang lain berfikir positip dan bekerja untuk kebaikan.
Dan dirasakan manfaatnya oleh publik, hanya dengan kejujuranlah, ilmu itu akan memberikan azas manfaat bagi kemaslahatan orang banyak dengan kata lain tidak disalah gunakan, dan memberikan azasmanfaat dalam kehidupan masyarakat.
Ilmu orang cerdas dan berakhlak, yang diwariskan pada generasi berikutnya itulah asset masa depan yang sangat bercahaya, dan bisa melahirkan pemimpin yang kuat dan berani, mengambil keputusan dan memikul resiko, untuk mensejahterakan orang banyak (masyarakat) yang di pimpinnya.
Rakyat (masyarakat) yang dipimpinnya akan patuh, tanpa harus di ingatkan terus-terusan, karena dia mencontoh pada kebenaran yang dijalankan pemimpinnya, jujur, dan amanah (direalisasikan) di jaman modern, “sesuai kata dan perbuatan, janji ditepati” tidak hanya batas membangun pencitraan, dengan mengundang banyak wartawan, dan di ekspose besar-besaran, tapi isinya kebohongan di bungkus didalam cerita seolah kebenaran.
Dan pemimpin, “yang jangan di ikuti sama sekali, melakukan maksiat, rakus mengambil hak yang bukan haknya, kejam menghukum orang tanpa di adili dipengadilan yang bersih, dengan kekusaan & kepemimpinannya, bisa meringankan dan memberatkan hukuman seseorang, karena kepentingan kekuasaannya, atau putusan hukuman pesanan para oknum majelis hakim, seenaknya membuat keputusan karena menerima bayaran?.
Kita semua jadi wajib mendukung “pemimpin yang berilmu, jujur, amanah, dan kita mendo,akannya baik sebagai pemimpin maupun,
(tidak active)-sebagai warga biasa” karena sudah memberikan dharma bakhtinya untuk masyarakat yang pernah dipimpinnya.
Selama memimpin ia telah menerapkan ilmu pengetahuanya (kercerdasan), merealisasikan amanah dan kepentingan rakyat yang pernah dipimpinnya.
Jika kita menemukan pemimpin gaya abujahal (jahiliyah), tidak senang dengan kebenaran, dan tindakannya mau benar sendiri (menguntungkan pribadi atau kelompoknya) hentikanlah kekuasaan dan kepemimpinannya, melalui konstitusi yang benar, di Negara kita melalui Pemilihan umum (pemilu) lima tahun sekali, jangan di pilih.
Sepakat jawabannya, kalau dipaksa harus menerima uang (money politik) ambil uangnya jangan dipilih orangnya klier “bunuh dia lewat hak pilih yang sah” jadi tidak perlu di turunkan paksa atau kekerasan, yang berdarah-darah?.
Dan jangan memberhentikanya dengan cara berdarah-darah, karena dampaknya mengorbankan orang banyak tak berdosa, karena kebodohan dan ketidak tahuannya.
Orang bodoh bisa diarahkan dengan, tekanan, (ditakut-takuti), disinilah kita harus memberikan petunjuk yang benar di mulai dari bawah (akar rumput), bukan dari atas kebawah.
Mengutif pendapat Imam Ahmad Bin Hambali, dari berbagai sumber Ulama, mendo,akan kelurusan bagi penguasa adalah kewajiban moral seorang ulama dan rakyat demi kemaslahatan bersama. Beliau pernah menyatakan sebuah ungkapan yang sangat terkenal:
“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab (pasti dikabulkan), niscaya akan aku persembahkan doa itu untuk pemimpin.”
Alasannya: Jika seseorang mendoakan dirinya sendiri, kebaikannya hanya kembali pada satu orang. Namun, jika pemimpin menjadi baik dan adil, maka seluruh negara dan rakyat akan merasakan dampaknya. Dikutip kembali.
Terbukti, meski disiksa berat di masa kekhalifahan Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq, beliau tetap mendoakan kebaikan bagi mereka dan tidak mengkafirkannya secara personal.
Beliau menegaskan lebik baik mengutamakan Karakter kuat dari pada Kesalehan Pribadi untuk ke-maslahatan Publik.
Sebaliknya, kesalehan orang yang lemah, (pemimpin lemah) hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi kelemahannya dalam memimpin akan merugikan seluruh umat dan kaum muslimin.
Menjaga Jarak dari Kekuasaan ( Wara ) ; Secara personal, Imam Ahmad mencontohkan bahwa ulama dan pemimpin spiritual harus menjaga jarak dari lingkaran kekuasaan demi menjaga kemurnian integritasnya.
Selanjutnya beliau menolak hadiah, harta, serta fasilitas keduniaan dari para khalifah agar fatwa dan dakwahnya tidak tersandera oleh kepentingan politik penguasa. Demikian dikutif sebagian dari pendapat beliau.
Seorang pengkritik yang cerdas (berilmu) terhadap pemimpin, harus kuat untuk tidak menerima imbalan dalam bentuk apapun, apa lagi uang dan jabatan.
Yang penting kritik yang disampaikan bisa memberi azasmanfaat, bagi publik dan masyarakat luas. ( *** ).-
Penulis/editor & Penanggungjawab : Gafar Uyub Depati Intan, Putra Asli asal Kerinci, Pengamat masalah Kemiskinan dipedesaan, Ketua DPD-KWRI Propinsi Bengkulu, yang juga Pemimpin Redaksi Mediaonline Beo07.co.id-
Penulis ikhlas menerima Kritik, masukan, saran, pandangan dan pendapat, akan dimuat apa adanya. Dengan catatan; pengirim bisa dihubungi langsung, atau lisan jarak jauh dan jelas identitasnya.





